MAHASISWA
MODERAT SAAT INI DAN MASA YANG AKAN DATANG DALAM NARASI KONTRA EKTREMISME
Oleh:
Elida Sari Harahap
Peserta DIKLATPIMNAS II Tahun 2021
Delegasi IAIN Padangsidimpuan
Email : Sarielida05@Gmail.Com
Assalamu'alaikum Wr.Wb
Berbicara mengenai potret Indonesia saat
ini tidak terlepas bahwa bangsa Indonesia telah masuk pada masa kemajuan
global. Memasuki era revolusi industri 4.0 bahkan akan memasuki era society 5.0
yang mana ditandai dengan keamajuan di bidang teknologi. Kemajuan dalam bidang
teknologi juga memberikan dampak perubahan kemajuan dalam peradaban-peradaban
manusia. Saat ini segala akses informasi sangat mudah didapatkan dan masih
banyak lagi kemudahan-kemudahan yang diperoleh dari kemajuan zaman dewasa ini.
Akan tetapi dibalik kemudahan yang ditawarkan juga mengandung hal negatif yang
mana dapat merusak akhlak atau moral para generasi. Banyak sekali informasi
yang tidak mengedukasi beredar begitu saja dimana dapat merusak moral para
generasi misalnya pornografi dan konten-konten yang dapat mengubah perilaku
generasi menjadi konsumerisme. Sehingga hal ini akan memunculkan beberapa
tindakan negatif yang dilakukan oleh generasi saat, misal munculnya prostitusi
online, ujaran kebencian, beredarnya hoax, permusuhan, penggunaan narkoba,
bahkan beredarnya informasi-informasi yang mengandung ideologi-ideologi radikal
dan ekstrim baik yang bersifat sekular maupun yang bermotivasi keagamaan, dan
lain sebagainya.
Seperti yang kita ketahui Indonesia
merupakan sebuah bangsa yang kaya akan keberagaman. Akan tetapi keberagaman ini
tak jarang pula menimbulkan perpecahan yang dapat mengancam suatu ketahanan
bangsa. Sukuisme, chauvinisme,
primordialisme dan ektremisme merupakan sikap yang dinilai dapat mengancam
keutuhan suatu bangsa. Dimana sukuisme
ini merupakan suatu paham yang memandang bahwa suku bangsa sendirilah yang
terbaik dan memandang rendah suku bangsa yang lain. Artinya suku yang melekat
pada dirinya lah segala-galanya. Disamping itu ada yang namanya chauvinisme yaitu paham yang
mengangung-agungkan bangsa atau negaranya sendiri secara berlebihan, sedangkan primordialisme merupakan paham yang
memandang bahwa daerah asalnya paling baik dari yang lain. Kemudian ektremisme merupakan sebuah paham
ataupun keyakinan yang sangat kuat
terhadap sebuah pandangan yang melampaui batas kewajaranan dan biasanya akan
beretentangan dengan hukum. Paham ini menganut paham yang ekstrim terhadap
pandangan agama, politik dan sebagainya. Ektremisme biasanya berujung pada
suatu tindakan yang radikal berupa kekerasan seperti melakukan teror.
Berbicara mengenai Radikalisme merupakan
topik yang hangat dan kerap dibahas di berbagai kesempatan dikarenakan radikalisme
menjadi masalah penting dan utama dalam umat beragama. Di muka bumi ini gerakan
radikalisme dan terorisme mempunyai akar sejarah yang sangat panjang, tidak
saja menjadi masalah untuk agama islam
tapi juga menjadi masalah hampir semua agama di muka bumi ini. Berbicara
mengenai sejarah berkembangnya ektremisme dari masa ke masa dengan latar
belakang tumbuh berkembangnya ektremisme yang berbasis kekerasan yang mengarah
pada terorisme. Dimana wacana yang sering kita bahwa radikalisme berakar pada
suatu mazhab keagamaan tertentu, berakar pada suatu aliran keagamaan tertentu
yang karna mazhab dan aliran itu kemudian membuat mereka cenderung menyempal
dari mainstream masyarakat . Yang paling sering kita dengar tentang perdebatan
umum adalah hal-hal yang menyangkut perbedaan pendapat di dalam soal keagamaan,
atau yang sering kita pahami sebagai masalah furuiyah yang terkait dengan
peribadatan yang memang di dalam khazanah Islam khususnya, memang sangat beragam
pandangan yang ditemukan tapi kemudian ada satu model dari pandangan-pandangan
keagamaan itu yang dinisbatkan kepada radikalisme orang biasanya berbicara
sebagai bentuk atau tanda-tanda radikalisme seperti model pakaian, kita sering
mendengar orang berdebat tentang celana cingkrang, tentang jidat yang
dihitamkan, cadar untuk perempuan dan lain sebagainya. Paham ektremisme ini
dinilai sangat rentan terjadi pada generasi muda, dikarenakan pada masa ini
generasi muda masih mencari jati dirinya sehingga sangat mudah terpengaruhi
bahkan dimasuki paham-paham, isu-isu yang tidak baik, khususnya dalam persatuan
dan kesatuan bangsa.
Menyikapi hal diatas perlu yang namanya
pemahaman akan suatu konsep keagamaan yang
moderat. Radikalisme dalam konteks moderasi beragama muncul merupakan
akibat dari sempitnya pemahamann tentang keagamaan. Sikap dan ekpresi yang
muncul dari ideologi dan pemahaman ini cenderung ingin merubah tatanan sosial
dan politik masyarakat melalui cara-cara yang ekstrim atau kekerasan. Selain
itu ekpresi keagamaan yang radikal tidak hanya kekerasan kepada fisik akan tetapi
non fisik seperti menuduh sesat seseorang atau sekelompok masyarakat yang
dinilai berbeda pemahaman tanpa dasar yang jelas.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan
munculnya ektremisme ini yang pertama pemahaman yang kaku dalam beragama. Tidak
bisa dipungkiri banyak saat ini fenomena yang terjadi saat ini yaitu banyak
ditemui dalam mengekspresikan keagamaan yang muncul dari sebagian umat islam
tampak kurang bijaksana, kaku, dan ekslusif dalam beragama. Yang mana hal ini
mengakibatkan wajah islam itu sangat angker, ektrem, tidak ramah, dan
diskriminatif di wajah publik. Sehingga muncullah istilah islam phobia. Sunggu
hal ini tidak benar karena seyogiyanya islam adalah agama yang penuh kasih
sayang yaitu rahmatanlilalamin menebar rahmat bagi seluruh alam semesta. Kedua,
paham radikalisme juga muncul dari pemahaman keagamaan yang mengusung ideologi
revivalisme yaitu keinginan yang kuat untuk mendirikan negara islam atau daulah
islamiyah seperti khilafah, darul islam, dan imamah. Varian-varian inilah yang
sebenarnya menamba nrumit dalam
menciptakan kondisi yang harmonis, rukun
suatu masyarakat. Indikator moderasi beragama dalam hubungannya dengan paham radikalisme
terletak pada sikap dan ekspresinya yang seimbang dan adil, yaitu suatu sikap
yang mengutamakan keadilan, penghormatan, dan pemahaman realitas perbedaan di
tengah-tengah masyarakat. Menyikapi hal ini salah satu cara untuk mencegah
paham radikalisme adalah memberikan edukasi kepada masyarakat melalui bantuan
generasi muda.
Generasi muda adalah mereka para penerus
perjuangan estafet bangsa khususnya dalam menyongsong masa keemasan Indonesia
2045. Dimana Indonesia emas 2045 merupakan suatu kondisi atau momen bersejarah
bagi bangsa Indonesia. Pada tahun tersebut tepatnya 100 tahun kemerdekaan
Indonesia diprediksikan akan memperoleh bonus demografi dimana sekitar 70%
penduduk indonesia memasuki usia produktif yaitu usia antara 15 tahun sampai 64
tahun. Kondisi ini dinilai akan memberikan peran yang sangat besar khususnya
dalam pembangunan negara. Negara indonesia dapat memanfaatkan bonus demografi
ini khususnya dalam rangka peningkatan kualitas generasi dalam rangka
pencegahan perilaku yang berujung pada ektremisme keagamaan. Akan tetapi dalam
konteks ini dibutukannya suatu langkah stategis dalam memberikan pemahaman
tentang moderasi beragama. Mahasiswa merupakan generasi sebagai sasaran
stategis dalam pencegahan ini.
Sedikt berbicara mengenai mahasiswa,
mereka adalah orang-orang yang sedang mengemban studi pada tingkat Strata-1
atau Strata-2 di sebuah perguruan tinggi baik itu sekolah tinggi, akademi,
institut bahkan universitas. Di setiap negara mahasiswa selalu mengambil
perannya yang sangat penting dalam suatu negara, mereka adalah para pelaku
sejarah. Sebagai pelaku sejarah peran mahasiswa dalam memberikan sumbangsih
pemikiran dalam hal pengembangan sumber daya manusia sangat dibutuhkan karena
mereka adalah sosok intelektual dan cendikiawan. Peran mahasiswa dinilai sangat
penting karena mereka dikenal sebagai agen perubahan atau agent of change, mahasisiwa
harus mampu memberikan edukasi terkait radikalisme. Selanjutnya mahasiswa juga
dituntun untuk bisa memberikan pemikiran-pemikiran keilmuan sebagai agen
perubahan dan generas penerus bangsa. Mahasiswa dikenal sebagai Guardian of value yaitu menjaga
nilai-nilai masyarakat yang memiliki kebenaran, misalnya dalam hal menjunjung
kejujuran, keadilan, gotong royong, empati, integritas. Maka dari itu bagi
seorang mahasiswa sangat dibutuhkan untuk mendapatkan pemahaman atau ilmu
tentang agama. Sebagai pencipta insan akademisi sudah saatnya bagi perguruan
tinggi memberikan pemahaman tentang moderasi beragama di kalangan mahasiswa
melaui kajian-kajian, diskusi-diskusi, seminar, Focus Group Discussion guna mencipatakan
sosok cendikiawan mahasiswa moderat yang memiliki cara pandang keagamaan yang
moderat (seimbang dan proforsional), nasionalis, berwawasan global dan juga
memiliki profil yang mampu merespon situasi dan kondisi secara cepat baik yang
maya maupun nyata. Mahasiswa yang memiliki nilai-nilai keislaman moderat dan
karakter keindonesiaan sangat diharapkan saat ini dan masa yang akan datang
guna menciptakan suatu pemahaman yang tepat dan mengedukasi masyarakat agar
tidak lari dari hal yang sebenarnya.
Sekian Semoga Bermanfaat
Wassalamu'alaikum Wr.Wb
Tidak ada komentar:
Posting Komentar