Sabtu, 11 Desember 2021

MAHASISWA MODERAT SAAT INI DAN MASA YANG AKAN DATANG DALAM NARASI KONTRA EKTREMISME

 

MAHASISWA MODERAT SAAT INI DAN MASA YANG AKAN DATANG DALAM NARASI KONTRA EKTREMISME

Oleh:
Elida Sari Harahap
Peserta DIKLATPIMNAS II Tahun 2021
Delegasi IAIN Padangsidimpuan
Email : Sarielida05@Gmail.Com

Assalamu'alaikum Wr.Wb

Berbicara mengenai potret Indonesia saat ini tidak terlepas bahwa bangsa Indonesia telah masuk pada masa kemajuan global. Memasuki era revolusi industri 4.0 bahkan akan memasuki era society 5.0 yang mana ditandai dengan keamajuan di bidang teknologi. Kemajuan dalam bidang teknologi juga memberikan dampak perubahan kemajuan dalam peradaban-peradaban manusia. Saat ini segala akses informasi sangat mudah didapatkan dan masih banyak lagi kemudahan-kemudahan yang diperoleh dari kemajuan zaman dewasa ini. Akan tetapi dibalik kemudahan yang ditawarkan juga mengandung hal negatif yang mana dapat merusak akhlak atau moral para generasi. Banyak sekali informasi yang tidak mengedukasi beredar begitu saja dimana dapat merusak moral para generasi misalnya pornografi dan konten-konten yang dapat mengubah perilaku generasi menjadi konsumerisme. Sehingga hal ini akan memunculkan beberapa tindakan negatif yang dilakukan oleh generasi saat, misal munculnya prostitusi online, ujaran kebencian, beredarnya hoax, permusuhan, penggunaan narkoba, bahkan beredarnya informasi-informasi yang mengandung ideologi-ideologi radikal dan ekstrim baik yang bersifat sekular maupun yang bermotivasi keagamaan, dan lain sebagainya.

Seperti yang kita ketahui Indonesia merupakan sebuah bangsa yang kaya akan keberagaman. Akan tetapi keberagaman ini tak jarang pula menimbulkan perpecahan yang dapat mengancam suatu ketahanan bangsa. Sukuisme, chauvinisme, primordialisme dan ektremisme merupakan sikap yang dinilai dapat mengancam keutuhan suatu bangsa. Dimana sukuisme ini merupakan suatu paham yang memandang bahwa suku bangsa sendirilah yang terbaik dan memandang rendah suku bangsa yang lain. Artinya suku yang melekat pada dirinya lah segala-galanya. Disamping itu ada yang namanya chauvinisme yaitu paham yang mengangung-agungkan bangsa atau negaranya sendiri secara berlebihan, sedangkan primordialisme merupakan paham yang memandang bahwa daerah asalnya paling baik dari yang lain. Kemudian ektremisme merupakan sebuah paham ataupun keyakinan  yang sangat kuat terhadap sebuah pandangan yang melampaui batas kewajaranan dan biasanya akan beretentangan dengan hukum. Paham ini menganut paham yang ekstrim terhadap pandangan agama, politik dan sebagainya. Ektremisme biasanya berujung pada suatu tindakan yang radikal berupa kekerasan seperti melakukan teror.

Berbicara mengenai Radikalisme merupakan topik yang hangat dan kerap dibahas di berbagai kesempatan dikarenakan radikalisme menjadi masalah penting dan utama dalam umat beragama. Di muka bumi ini gerakan radikalisme dan terorisme mempunyai akar sejarah yang sangat panjang, tidak saja menjadi masalah untuk agama islam  tapi juga menjadi masalah hampir semua agama di muka bumi ini. Berbicara mengenai sejarah berkembangnya ektremisme dari masa ke masa dengan latar belakang tumbuh berkembangnya ektremisme yang berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme. Dimana wacana yang sering kita bahwa radikalisme berakar pada suatu mazhab keagamaan tertentu, berakar pada suatu aliran keagamaan tertentu yang karna mazhab dan aliran itu kemudian membuat mereka cenderung menyempal dari mainstream masyarakat . Yang paling sering kita dengar tentang perdebatan umum adalah hal-hal yang menyangkut perbedaan pendapat di dalam soal keagamaan, atau yang sering kita pahami sebagai masalah furuiyah yang terkait dengan peribadatan yang memang di dalam khazanah Islam khususnya, memang sangat beragam pandangan yang ditemukan tapi kemudian ada satu model dari pandangan-pandangan keagamaan itu yang dinisbatkan kepada radikalisme orang biasanya berbicara sebagai bentuk atau tanda-tanda radikalisme seperti model pakaian, kita sering mendengar orang berdebat tentang celana cingkrang, tentang jidat yang dihitamkan, cadar untuk perempuan dan lain sebagainya. Paham ektremisme ini dinilai sangat rentan terjadi pada generasi muda, dikarenakan pada masa ini generasi muda masih mencari jati dirinya sehingga sangat mudah terpengaruhi bahkan dimasuki paham-paham, isu-isu yang tidak baik, khususnya dalam persatuan dan kesatuan bangsa.

Menyikapi hal diatas perlu yang namanya pemahaman akan suatu konsep keagamaan yang  moderat. Radikalisme dalam konteks moderasi beragama muncul merupakan akibat dari sempitnya pemahamann tentang keagamaan. Sikap dan ekpresi yang muncul dari ideologi dan pemahaman ini cenderung ingin merubah tatanan sosial dan politik masyarakat melalui cara-cara yang ekstrim atau kekerasan. Selain itu ekpresi keagamaan yang radikal tidak hanya kekerasan kepada fisik akan tetapi non fisik seperti menuduh sesat seseorang atau sekelompok masyarakat yang dinilai berbeda pemahaman tanpa dasar yang jelas.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya ektremisme ini yang pertama pemahaman yang kaku dalam beragama. Tidak bisa dipungkiri banyak saat ini fenomena yang terjadi saat ini yaitu banyak ditemui dalam mengekspresikan keagamaan yang muncul dari sebagian umat islam tampak kurang bijaksana, kaku, dan ekslusif dalam beragama. Yang mana hal ini mengakibatkan wajah islam itu sangat angker, ektrem, tidak ramah, dan diskriminatif di wajah publik. Sehingga muncullah istilah islam phobia. Sunggu hal ini tidak benar karena seyogiyanya islam adalah agama yang penuh kasih sayang yaitu rahmatanlilalamin menebar rahmat bagi seluruh alam semesta. Kedua, paham radikalisme juga muncul dari pemahaman keagamaan yang mengusung ideologi revivalisme yaitu keinginan yang kuat untuk mendirikan negara islam atau daulah islamiyah seperti khilafah, darul islam, dan imamah. Varian-varian inilah yang sebenarnya menamba nrumit  dalam menciptakan kondisi yang harmonis, rukun  suatu masyarakat. Indikator moderasi beragama  dalam hubungannya dengan paham radikalisme terletak pada sikap dan ekspresinya yang seimbang dan adil, yaitu suatu sikap yang mengutamakan keadilan, penghormatan, dan pemahaman realitas perbedaan di tengah-tengah masyarakat. Menyikapi hal ini salah satu cara untuk mencegah paham radikalisme adalah memberikan edukasi kepada masyarakat melalui bantuan generasi muda.

Generasi muda adalah mereka para penerus perjuangan estafet bangsa khususnya dalam menyongsong masa keemasan Indonesia 2045. Dimana Indonesia emas 2045 merupakan suatu kondisi atau momen bersejarah bagi bangsa Indonesia. Pada tahun tersebut tepatnya 100 tahun kemerdekaan Indonesia diprediksikan akan memperoleh bonus demografi dimana sekitar 70% penduduk indonesia memasuki usia produktif yaitu usia antara 15 tahun sampai 64 tahun. Kondisi ini dinilai akan memberikan peran yang sangat besar khususnya dalam pembangunan negara. Negara indonesia dapat memanfaatkan bonus demografi ini khususnya dalam rangka peningkatan kualitas generasi dalam rangka pencegahan perilaku yang berujung pada ektremisme keagamaan. Akan tetapi dalam konteks ini dibutukannya suatu langkah stategis dalam memberikan pemahaman tentang moderasi beragama. Mahasiswa merupakan generasi sebagai sasaran stategis dalam pencegahan ini.

Sedikt berbicara mengenai mahasiswa, mereka adalah orang-orang yang sedang mengemban studi pada tingkat Strata-1 atau Strata-2 di sebuah perguruan tinggi baik itu sekolah tinggi, akademi, institut bahkan universitas. Di setiap negara mahasiswa selalu mengambil perannya yang sangat penting dalam suatu negara, mereka adalah para pelaku sejarah. Sebagai pelaku sejarah peran mahasiswa dalam memberikan sumbangsih pemikiran dalam hal pengembangan sumber daya manusia sangat dibutuhkan karena mereka adalah sosok intelektual dan cendikiawan. Peran mahasiswa dinilai sangat penting karena mereka dikenal sebagai agen perubahan atau agent of change, mahasisiwa harus mampu memberikan edukasi terkait radikalisme. Selanjutnya mahasiswa juga dituntun untuk bisa memberikan pemikiran-pemikiran keilmuan sebagai agen perubahan dan generas penerus bangsa. Mahasiswa dikenal sebagai Guardian of value yaitu menjaga nilai-nilai masyarakat yang memiliki kebenaran, misalnya dalam hal menjunjung kejujuran, keadilan, gotong royong, empati, integritas. Maka dari itu bagi seorang mahasiswa sangat dibutuhkan untuk mendapatkan pemahaman atau ilmu tentang agama. Sebagai pencipta insan akademisi sudah saatnya bagi perguruan tinggi memberikan pemahaman tentang moderasi beragama di kalangan mahasiswa melaui kajian-kajian, diskusi-diskusi, seminar, Focus Group Discussion  guna mencipatakan sosok cendikiawan mahasiswa moderat yang memiliki cara pandang keagamaan yang moderat (seimbang dan proforsional), nasionalis, berwawasan global dan juga memiliki profil yang mampu merespon situasi dan kondisi secara cepat baik yang maya maupun nyata. Mahasiswa yang memiliki nilai-nilai keislaman moderat dan karakter keindonesiaan sangat diharapkan saat ini dan masa yang akan datang guna menciptakan suatu pemahaman yang tepat dan mengedukasi masyarakat agar tidak lari dari hal yang sebenarnya.

Sekian Semoga Bermanfaat

Wassalamu'alaikum Wr.Wb

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAHASISWA MODERAT SAAT INI DAN MASA YANG AKAN DATANG DALAM NARASI KONTRA EKTREMISME

  MAHASISWA MODERAT SAAT INI DAN MASA YANG AKAN DATANG DALAM NARASI KONTRA EKTREMISME Oleh: Elida Sari Harahap Peserta DIKLATPIMNAS II Tah...